Gabus Kalimas

Sabtu
Rencana turun mancing pagi-pagi gagal total, Maknyah minta di antarkan  ke Pasar Tengah. Well tu the well well... mau tak mau tancap gas laksanakan tugas.


Pulang dari pasteng hampir jam 12 siang. Cuaca panas "bedengkang" membuatku mengurungkan niat untuk segera ngacir ke spot gabus. Daripada bengong, kulanjutkan saja pekerjaanku semalam melapisi body beberapa SangunJF dengan lem cepat kering dilanjutkan dengan pemasangan skirt. Hingga jam 13.00 siang rampung juga 7 biji kodok kayu.

Tepat jam 14.00 Wib aku berangkat. Tujuanku Kalimas seberang. Namun, baru sampai di Pal 9 langit ke arah Kalimas tampak gelap. Akhirnya ketika tiba di Parit penjara, aku memutuskan belok kanan. Wow, jalan sepanjang tepi kanal sudah beraspal mulus. Sampai di sebelah kebun jeruk aku berhenti sejenak. Kuperhatikan kanal di seberang sawah tepiannya tampak lapang. Kebetulan air baru saja pasang naik, tak salah pikirku singgah sejenak untuk menguji ke-7 JF rautan tanganku.

Parkir motor di dekat baliho yang tulisannya sudah tidak jelas lantas berjalan menyusuri pematang antara sawah dan kebun kelapa. Sampai di tepi kanal nyalain rokok, minum air mineral lantas setting tackel. Tas ku letakkan di atas tanah lantas membongkar kotak umpan. Pilihan pertama jatuh pada Sangun dengan ekor warna warni, ekor bekas dari spinner dan beberapa JF yang actionnya gagal. Begitu di lempar, tuiinngggggg... Sangun anyar tersebut terbang jauh. Ketika di retrive, Alhamdulillah, langsung meloncat-loncat dengan indah disertai cipratan air yang meriah plus bunyi cepluk-cepluk setiap kali mulutnya menabrak air. Satu-persatu dari Sangun baru yang ku bawa ku test. Semuanya sukses.

Angin kencang yang tiba tiba datang membuatku hampir saja membatalkan niat untuk menyusuri kanal hingga jembatan kecil di ujung kanal. Beruntung barisan pohon pisang yang berjejer rapi di sepanjang tanggul kiri cukup buat penghalang angin hingga tidak terlalu mempengaruhi lemparanku, kebetulan pula JF yang aku buat rata-rata berukuran besar dan terasa berat dengan panjang 5 hingga 6 cm. Sayang hingga sampai ke jembatan tak ada satupun sambaran. Aku berbalik arah ke tempat semula sambil terus melakukan lemparan ke sana ke mari, tetap saja nihil. 

Beranjak dari kanal tersebut aku melanjutkan perjalanan. Sampai di sebuah kolam pemancingan baru. Aku berhenti sejenak didepannya, terlihat seseorang sedang fight dengan ikan, sayang mocel. Kuteruskan perjalanan dan berbelok ke kanak memasuki tanggul dengan pintu air yang baru pula. Sampai di persimpangan kanal di tengah aku berhenti sejenak dan masuk ke kanal kecil di kanan. Hingga bagian ujung kanal yang bersemak tak ada satupun sambaran. Keluar dari kanal tersebut aku memacu lagi revo maknyah menuju arah berembang karena kulihat langit  ke arah Kalimas semakin gelap saja. Tiba di kanal dekat masjid aku belok kanan lantas masuk ke kanal kecil di sebelah kiri, tampak air semakin kencang masuk kekanal. beberapa kali lemparan di bawah pohon akasia tak membuahkan hasil aku keluar dari sana terus melanjutkan perjalanan. Sampai di depan pendok penggilingan padi, aku menyeberang kanal besar menuju tembusan kanal ke parit keladi, sayang air tinggi. Aku lantas keluar dari jembatan di ujung berbalik lagi ke jalan utama. Tiba di jalan bersemen aku memutuskan untuk mencoba ujung tanggul yang di dekat masjid tadi. Berjalan melintasi sawah yang baru habis panen lantas bolak balik di kanal tersebut. tetap saja nihil.

keluar dari sana aku melanjutkan perjalanan, tiba di perapatan kanal aku berbelok ke kiri yang kalau kita lurus bakal tembus ke Sungai Itik. Namun aku memutar lagi ke kiri menyusuri tanggul tanah yang di samping kanannya terdapat kanal bersih, sampai ujung kanal dekat pintu air yang berhadapan dengan tanggul utama Parit Keladi aku mencoba peruntungan. Hanya ada satu sambarabn kecil namun miss, ku ulang beberapa kali si kocolan tak lagi merespon.

Cabut dari sana aku memutuskan untuk langsung saja menuju kalan 5 di berembang darat. Ketika tiba di sana aku berhenti di ujung kanal buntu yang bermuara ke sungai besar. Gelamung-gelembung kecil di dekat semak di samping kanan kanal memuat aku tertarik untuk menggoda mama gabus. Mau tak mau Hinomiya mungil jadul turun tangan. Aseli bangbrow... lemparan pertama langsung di sambar. Jiahhhhh... strike deh. Fight sejenak dengan rumput dan tumbuhan air akhirnya si gabus nongol. Setelah sesi foto berahir, si gabus kulepaskan lagi, kasihan anak-anaknya ntar pada yatim piano. Gilaaaakkk... udah jam 14.30 baru strike seekor doank, ancoreeeeee....

Istirahat sejenak di dekat tumpukan padi yang ditutupi dengan terpal biru sambil ngebul-ngebul seperti biasanya. Puas beristirahat aku cabut dari kanal karena air semakin tinggi. Joran pancing belum ku kemas, aku memutuskan mampir sebentar ke bekas kolam pemancingan di berembang laut. Sanyang hingga jam 17.00 WIB tak ada satupun sambaran, Aku cabut pulang.

Minggu
Umpan Mancing Ikan Gabus
Sangun JF
Penasaran dengan hasil yang memuaskan kemaren, pagi-pagi selepas bantu-bantu di rumah aku berangkat jam 06.30 WIB. Sampai di Kalimas langsung menyeberang ke Kalimas seberang, Ambil kanan dan terus menyusuri kanal hingga sampai di pintu air pertama. Setting tackle dan lempar-lempar di kanal utama yang sepertinya baru beberapa hari lalu di bersihkan. Silih berganti dari ketujuh Sangun kemaren ku coba. Ada beberapa sambaran, sayang miss.

Beranjak dari pintu air pertama kau meneruskan perjalanan. Sampai di Pintu Air kedua, Aku mencoba lagi, Kali ini spinner baru buatanku yang dapat giliran karena kulihat air kanal masih tinggi. Dalam beberapa kali lemparan akhirnya nyagkut juga seekor kocolan. Seperti biasa, foto-foto dan kulepas lagi ke kanal. Pindah dari sana aku bergeser ke sebelah titian dari batang kelapa yang menghubungkan jalan di tanggul dengan sawah di seberangnya. Kali ini aku mencoba buzzbait buatan sendiri. Sayang, dua buas buzzbait buatanku tersebut actionnya kurang sempurna, yang satu mereng ke kanan dan yang satu lagi larikya ke kiri terus, cucccccoookkk ddeeeehhhh...

Bergerak lagi ke prapatan kanal dan kali ini lagi lagi Sangun beraksi karena kulihat arus air mulai melambat. Walhasil naik juga seekor kocolan. Alhamdulillah, Sangun JFku akhirnya amis lagi. Bolak balik dari perapatan sampai titian tadi aku berhasil strike beberapa kali. Hanya saja tak satupun dari gabsu tersebut yang ukurannya besar, kesemuanya ku taksir rata-rata paling tinggi 1 ons per-ekor. Kesemua gabus ku rilis kembali karena tak ada satupun yang cedera berat. Hook menancap paling di ujung bibirnya, jadi ku fikir aman-aman saja kalau aku lepaskan kembali.

Istirahat sejenak di bawah sebuah pohon sambil menikmati udara pagi, ngebul-ngebul sembari coba-coba cari singnal siapa tau bisa upload gambar gabus ke FB, sayang kuota bangkrutttt.... hihihihihih. Lajut lagi menuju kanal depan pondok pengolahan gula kelapa. Parkir motor di jalan utama lantas masuk ke dalam. Pada lemparan ke tiga, Sangun JF mendapat sambaran dahsyat. Si Gabus langsung melarikan diri ke bawah alga di tengah kanal. Dengan joran selentur venom 14lbs susah payah gabus ku tarik keluar. Wowwww... mamamiaaaa... seekor gabus gede landed. Fotonya... huaahahahaha... jangan tanya, belasan... Gabus ku amankan ke dalam karung bekas pupuk Pak tani dan ku ikat di semak tepi kanal.

Hari semakin siang, adrenalin terpacu lagi setelah barusan berhasil menaikkan seekor gabus yang lumayan gede. Bergerak terus ke dalam hingga sampai di rumpun bambu dan beristirahat sejenak. Mataku tajam mengawasi buih-buih kecil di seberang kanal tepat di bawah pelepah daun kelapa yang menjuntai ke tengah kanal. Setelah puas ngebul aku mengganti umpan dengan softfrog tiny surecat jadul berwarna kuning kehitaman. kodok bekas tempur beberapa tahun silam. Hook yang entah dari bekas kodok yang mana kupasang ke tiny tadi malam. Lagi-lagi pada lemparan pertama si tiny langsung di sambar, Finght sebentar dan senyap seketika. Yang nyangkut di body tiny hanya segumpal alga, aku memeriksa si tiny. Ternyata bodynya  kempes pada bagian punggung sehingga kedua ujung hook mencuat keluar, pertanda bahwa body tiny memang telah tercengkeram gigi si gabus. Sayang di bagian moncong , body tempat kawat sangkutan snap terkoyak kehingga baik kawat maupun hook maju ke depan  terbalik seperti biasanya, otomatis ujung hook susah menancap ke langit-langit mulut si gabus karena tertahan bagian belakang body... yaaaaaa.... mocceeelll.

Karena masih kesal, segera saja si tiny ku ganti dengan si Swan. Hingga ujung kanal dekat depan kebun jeruk, landed beberapa kocolan. Sampai di bagian kanal yang agak lapang, kembali Sangun JF dan saudara-saudaranya kuuji. Berturut-turut ketujuh-tujuh kodok kayu tersebut berhasil menggoda gabus. Karena karung yang kupakai menyimpan gabus di muara kanal tadi lumayan jauh, semua kocolan kulepaskan kembali ke kanal. Aku kembali bergerak ke arah semula menuju bawah pohon bambu.

Tak terasa sudah setengah sebelas siang. Aku kembali beristirahat. Buka baju brow, puanasnya edduunnnnn. Untung angin dari arah sawah bertiup terus dari tadi hingga acara ngebulku terasa menyenangkan. Mataku tetap mengawasi pergerakan anakan gabus di awah pelepah kelapa yang menjuntai ke tengah kanal tempat di mana mocel indukan tadi, ya pasti indukan karena kurasa perlawanan yang lumayan darinya.

Setelah puas beristirahat. Aku kembali mencoba menggoda si mamy gabus. Siapa tau mulutnya tidak terkena hook si tiny tadi. Ujung tombakku kali ini kembali ke Swan budug yang warnanya udah tidak karuan. Lemparan pertama tak mendapat respon. Lemparan kedua si gabus langsung menyambar dahyat. Kudiamkan sejenak memastikan apakah sambaran tersebut telak dan si swan tertelan habis. Handle ku putar perlahan, terlihat tali bergerak dan di tarik dari dalam air. Setelah merasakan sedikit kedutan di ujung joran, joran ku sentak dan strikeeeeee.... Akhirnya hookup sempurna. Lagi-lagi aku harus bersusah payah menaik gabus keluar dari alga, kepala gabus nongol sebentar di permukaan air, lantas si gabus kembali bergerak liar. Umpan dilarikannya ke bawah kangkung di tepi kanal, waduh, kutarik tarik tak bergerak. Terpaksa deh, nyebur. Setelah melewati perjuangan yang sedemikian melelahkan, akhirnya gabus berhasil aku taklukkan. Foto-foto seperti biasa dan si gabus kubiarkan tergeletak di samping tas pancingku. Mengaso sejenak sambil ngebul. Indukan kulepaskan kembali ke arah gerombolan anak-anaknya yang kini berada tepat di depanku di bawah pohon bambu.

Tak terasa sudah jam 11.30 siang. Pasukan cacing dalam usus sudah mulai ribut. Sambil bergerak kembali ke muara kanal aku kembali melakukan lemparan. Landed ladi dua ekor gabus ukuran agak kecil dari si mama tadi, Keduanya kuamankan ke dalam karung yang tadi ku ikat di tepi kanal. Tepat jam 12 siang aku cabut pulang membawa gabus satu karung 50kg (isinya 3 ekor gabus doank, jiakakakakakaka....)

Jika anda merasa artikel di blog ini bermanfaat dan ingin berlangganan, silahkan masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini:


Delivered by FeedBurner


4 komentar:

reyhan ramadhan mengatakan...

Tempat jual buzbait d pontianak dimana ya mas? Penasaran nih pengen nyoba.Skalian info tempat mancing yg enak dong

Aba Enim mengatakan...

@reyhan ramadhan :

Dateng aja ke toko pancing di seputaran jalan mahakam, terus di Muara Fishing Shop dekat pelabuhan senghie.

Kalau untuk tempat yang enak buat mancing relatif boss, hehehehe... saya di senghie aja udah merasa enak mancing ikan juare sore-sore,... maksudnya enak mancing ikan apa nih ???

ESSH NVIDIAS mengatakan...

wah keren nih blog nya bang, jdi ngiler buat casting daerah2nya.
cma daerh yg abg tlusuri bgtu asing, krna ane gx berasl dri ptk
share dong bg lokasi nya, biar sya sma2 tmen2 bsa casting area ptk barat

Aba Enim mengatakan...

@ESSH NVIDIAS

Kalau untuk area PTK barat, bisa mulai dari jalan karet. Atau langsung ajah ke arah tpi, lurusssss hingga mentok sd 16 kakap, masuk jalan pemuda, ketemu jembatan simpang banjar. lurus lagi ketemu jembatan kedua, ambil kanan, ketemu lagi jembatan ke tiga, lurus lagi... naaaaa... ketemu deh tiga kanal. Kalau kita lurus terus tembus ke sui berembang

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...