Kangen sama si Sienna

Mancing Gabus
Baru saja sampai di jembatan depan SD 16 Kakap, hujan seketika tumpah ruah semaunya. Kalau saja turunnya bergiliran, satu per satu, pasti ku ajak duel. Ini beraninya keroyokan. Ya udah, yang waras ngalah. Buru-buru kubelokkan motor ke salah satu ruko di samping masjid.

Di tungguin si hujan semakin menjadi. Sudah dua batang rokok raib ujungnya. Tersisa hanya filternya saja tergeletak di lantai semen basah dekat kaki bangku panjang tempat aku duduk.

Semakin banyak yang datang berteduh. Mamang pentol berperawakan sedang berkumis tipis memakai kupluk bertuliskan SLANK. Di sampingnya duduk manis seorang pelajar putri berpakaian pramuka, cantik. Bener... sumpah brow, jadi ingat sama ladys rocker dari negeri jiran. 

Tak lama berselang, dari seberang ruko seorang penjual jamu bakul lari terbirit-birit. Kain batik yang  ia kenakan sepertinya agak merepotkan untuk bisa tarik gas dan berakselerasi menghindari genangan air serta onggokan material bangunan yang berserakan di tanah. Benar saja perkiraanku, ketika akan sampai di bagian paling ujung lantai semen, bibi penjual jamu ini nyaris terpeleset. Beruntung Mamang pentol sigap menggapai tangannya.

Sebagai makhluk sosial, seharusnya ku senang. Suasana jadi rame karena kehadiran si tukang jamu, eeeee... malah sempat sempatnya menawarkan dagangannya. Ya namanya juga usaha toh brow, orang lagi cari rejeki. Aku cuma nyegir sambil keluarkan jurus andalanku. Minta dibuatkan segelas jamu anti miskin !!!... Soalnya kalau aku minta jamu "Anti Boncos" yang ada malah nanti aku di kasi jamu sari rapet, bahaya...

Tapi sebagai makluk pemburu gabus yang waktunya tersita karena hujan, ditambah dengan harus berbagi tempat duduk dan berteduh bersama manusia-manusia lain yang terus berdatangan membuat aku sekali lagi merasa menjadi manusia paling waras dan harus mengalah. Keluarkan mantel dari jok revo lantas buru buru kabur dari situ meski hujan masih deras.

Mancing Ikan Gabus Di Pontianak
Gabus Laper
Syukurlah, Tiba di pintu air tikungan jalan menuju sungai udang hujan mereda. Aku berhenti sejenak, naluriku memerintahkan untuk memperhatikan sejenak kondisi air. Kalau pasang naik ini terlalu besar, sebaiknya aku pulang saja, sebab bukan sekali aku boncos ketika debit air sedang tinggi. Tapi ah, udah terlajur basah, tinggal 2 pintu air lagi aku bakal sampai ke spot sasaran, percuma donk bela belain pulang kerja langsung kemas tackle dan geber motor menuju spot.

Tekadku bulat, apapun yang terjadi, dua buah crank kecil yang kemarin kubeli di toko anto harus ku coba actionnya. Sementara balance tackle antara spinning rod scorpinn 180cm 15 Lbs dan reel shimano sienna 2500 yg kuisikan PE 1,2 bisa tercapai. Karena selama ini si sienna ku isikan PE 3 Ocea, membuat pergelangan tangan cepat pegal, lure ga bisa terbang jauh.

Sampai di pintu air kedua belok kanan terus lurus menuju pintu air ketiga. Aku nyaris putar haluan karena jembatan di depan dalam tahap perbaikan. Untunglah penduduk setempat menjukkan jembatan sementara di samping kiri jembatan tadi. Menyebrang lurus melewati jalan aspal yang juga sebetulnya  harus di perbaiki karena sudah banyak yang bolong. Sampai dipertigaan belok kiri menyusuri jalan tanah becek berlumpur. Paduan antara kubangan, jerami, rerumputan, daun daun nipah dan pelepah daun kelapa membuat sekali lagi sepatu bot keramat ini terasa amat sangat berguna.

Hujan benar benar berhenti seiring sampainya aku di perapatan kanal. Kuparkir motor di depan sebuah pondok kecil tempat mengolah gula merah lantas buka mantel dan langsung set takcle. Ya ampunnnn... joran yang aku bawa ternyata salah,  butt spinning scorpoin sementara ujungnya eupro penulum. berarti butt yang satunya pasti nemesis II, moga moga ujung rod yang satunya lagi bener ujung rod scorpion. Alhamdulillah... nyaris aja batal mancing, hehehehehe...

Kanal di depanku, merupakan tingungan berbentuk huruf L pertemuan ujung Paret Pak Taha dan Ujung Paret Pokok. kira kira 5 meter dari tikungan sebuah jembatan belli yang juga menunggu untuk segera diperbaiki merupakan akses untuk tembus ke parit pak taha, sementara satu lagi pari bermuara di  paret pokok dengan jembatan kecil tebuat dari kayu ulin adalah akses masuk ke paret pokok.

Aku memilih mencoba action crank kecil utimate di parit Pak Taha terlebih dahulu sebelum ke Parit Pokok. Syukurlah, si mini crank goyangannya asoy geboy, jadi lidahnya tidak perlu lagi kau gosok degan kikir, terbukti aku berhasil strike seekor kocolan. Dua lure lagi yang aku tes juga tidak bermasalah. Akan halnya rel dan joran, sudah terasa enak di tangan, dengan pe 1,2 lure sekecil si ultimate crank bisa kulempar jauh.

Paret Pak Taha
Setelah puas menguji ketiga lure tersebut, aku bergerak ke parit pokok meyisir tepi kiri merunduk melalui pohon akasia dan beberapa kelapa yang masih kecil, aku tidak kesulitan melakukan lemparan jarak pendek dengan gaya "nebas rumput" ... hingga ke tepi kanal yang lapang aku mencoba action beberapa Sangun yang telah kupasang weedguad. Ada juga pemberat sangun yang aku ganti. Semuanya sukses berenang gaya punggung alias terangguk angguk lengap dengan bunyi ceplak ceplok air yang ditabrak mulut sangun.

Seekor lagi kocolan tertipu ulah si sangun. Foto-foto lantas si kocolan kulepaskan ke petak sawah biar lebih enak nguber kodok asli. Hingga sampai ke titian pertama tak ada lagi sambaran, Aku berbalik arah, Kali ini Nabaw spinnerbaits beraksi, sayang 2 kali mocel.

Langit kembali gelap, aku buru buru meninggalkan kanal dan kemas pancing karena misi sudah tecapai. Dalam guyuran hujan lebat aku pulang.

Jika anda merasa artikel di blog ini bermanfaat dan ingin berlangganan, silahkan masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini:


Delivered by FeedBurner


Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...