Kangen Pake Spinning

Jam 15 entah lewat berapa, setelah bantu bantu nyonya rumah sebentar, aku ngacir sambil menenteng perlengkapan tempur. Kebetulan dapet hibahan tas dari seorang karib, hehehe misinya, ngamisin tas.

Semula aku hendak ke Paret Pinang, namun baru saja keluar dari gang, kulihat air di Sui Beliung (yg jadi nama kelurahann tempat aku tinggal) airnya masih tinggi. Sembari mempertimbangkan akan kemana tujuanku kali ini lempar lempar lure, motor kupacu sedikit ngebut mengingat janji bahwasanya sebelum jam 17,00 sudah harus ada di rumah.
Kebun Jeruk
Selepas pasar Paal IX (paret Gadoh) sampailah aku pada jembatan Paret Penjare, kuputuskan berbelok ke arah kanan, soalnya kalau belok kiri mentok kuburan cina. Baru beberapa puluh meter masuk, pandangan mataku selintas melihat parit kecil di antar kebun jeruk dan kebun kepala. Ah, apa salahnya fikirku menerapkan ilmu su'uzon alias curiga bin jangan-jangan.

Parkir motor di tepi jalan kemudian setting tackle, udah lama joran Kenzi New Despina ku anggurkan berikut rell Captain PT2000 pasangannya. Pilihan lure langsung jatuh pada si Sangun yang baru selesai di cat sama umdan Tri. Saking semangatnya sampai lupa membuka bailarm... jeblukkkkk... si sangun menghujam ke tanah. 

Lempar sana lempar sini di kebun jeruk nihil. Aku berpindah ke bawah kebun kelapa, Tampak di salah satu cabang parit anak anak gabus bermain. Pada lemparan pertama ke arah gerombolan anak gabus memang aku sengaja meretrive kencang dengan tujuan bikin ribut, biar ibunya ngamuk... pada lemparan kedua baru kuretrive perlahan... Dhuarrrrrr... sambaran dari dalam gerombolan semak mengagetkanku sehingga tanpa sadar joran aku sentak, sayang mocel... lupa kalau sedang menggunakan Sagun, buah karya kolaborasiku dengan umdan Tri.

Beberapa kali lemparan selanjutnya udah ngga diperdulikan lagi sama mama gabus. Aku bergerak dari bawah pohon kelapa, Sampai pada salah satu mura parit, dapet sambaran lagi. Alhamdulillah, akhirnya landed juga pertanda Sangun telah amis. Setelah sesi pemotretan selesai aku bergerak kembali ke segenap arah, mulai dari parit parit di kebun kelapa sampai yang di kebun jeruk tidak ada yang luput dari gangguan si sangun, sayang hanya beberapa sambaran kecil dan tidak hookup.

Nelayan Narsis
Lepas istirahat sejenak, aku kembali memacu motorku. Baru beberapa meter, lagi lagi aku tertarik degan genangan air di samping peternakan ayam. begitu aku masuk, terpampang jelas tulisan "dilarang mengambil ikan di sini degan cara apapun" Owalaaaahhhh..

Cabut dari situ aku meyusuri jalan perpaduan antara becek dan berbatu, Ketika sampai pada pematang sawah, kembali kulihat gerombolan anak gabus. Karena ga mungkin pake sangun, ku ganti dengan softfrog, jeng tiny kesayanganku. Tanpa mematikan mesin dan masih nangkring di motor kulempar agak jauh dari gerombolan anak preman tadi. baru bebrapa kali gulugan rell, sebuah sabaran membuat jeng tiny lenyap dari permukaan air, ku tunggu sejenak hingga PE menegang. dalam satu sentakan ringan, strikeee... mama gabus landed.

Karena masih di bawah standard, alias masih kecil, si mama gabby tadi kulemparkan kembali ke gerombolan anaknya, kasihan kalau sampai anaknya yatim piano.

Ketika sampai pada persimpangan kanal, aku belok kanan, lempar sana lempar sini nihil. Kemudian balik arah dan menyeberangi jembatan kayu menuju pintu kanal, istirahat sejenak. Aku memutuskan untuk berganti senjata. Setelah setinggan si blacmax nemesis akur. Mulai beraksi lempar lempar jeng Tiny, Sayang hingga pukul 16.00 ga ada sambaran berarti. Kuputuskan untuk menyudahi perangku. Tapi rasa penasaran akan parit parit di kebun jeruk tadi membuatku urung membongkar setinggan blackmax. Aku bealik arah menuju jalan raya.

Sampai di kebun jeruk kembali kujelajahi parit parit yang mencurigakan. Entah pada lemparan keberapa landed seekor kocolan. Setelah mendapat satu foto, handycam ku ikat ke batang pohon jeruk lantas pasang timer, maksudku mau narsis lagi degan si blackmax... Apa daya, si gabus rupanya malu foto bareng nelayan.. si kocolan nyebur duluan, ketika kuangkat tinggal Jeng tiny yang mengapung di air. Automatic rilis lah fikirku. Walhasil aku cuman pulang dengan seekor gabus seukuran lenganku.

Special Thanks to Tri Swasanaseger and Andika Negara


Jika anda merasa artikel di blog ini bermanfaat dan ingin berlangganan, silahkan masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini:


Delivered by FeedBurner


3 komentar:

Anonim mengatakan...

Mantap . Saja aseek ngebacanya

Aba Enim mengatakan...

@ Anonim > Makasih udah kasi koment di sini, cuman sekedar cerita casting gabus sekalian belajar bikin artikel...

Herry Sevhtyan mengatakan...

sedap e bang, ngemad aku bacenye, aku suke kate" apa salahnya fikirku menerapkan ilmu su'uzon alias curiga bin jangan-jangan." WKWKWKK

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...