Full Mancing di liburan Idul Firti 1438 H

dusun Balai nanga
Pari Sungai Kapuas
Assalamualaikum...
Ketemu lagi nih sama nelayan amatir dengan cerita seputar tipu menipu ikan. Hahahaha, walau pada kenyataannya bukan hanya ikan yang ditipu dan tertipu. Okeh langsung hajarrrrrr...


H - 3 Lebaran aku bersama isteri dan si bungsu melakukan perjalan mudik menuju kampung halaman. Berangkat dari Pontianak pukul 05.30 pagi dan alhamdulillah tanpa halangan berarti sampai di Sanggau pukul 11 siang lebih dikit. Selesai sholat Jumat di Masjid Mujahiddin  keluarahan beringin, aku memutuskan meneruskan perjalanan ke dusun Balai Nanga karena sudah tidak sabar untuk segera test beberapa lure baru yang aku punya, targetnya, si Lais Tebiring ( Belodontichthys dinema ) si gigi jarang yang dulu sering kupancing dengan umpan ikan seluang hidup.

Setibanya di Balai Nanga, kehebohan pun membuncah ketika si bungsu bertemu kembali dengan kedua kakaknya. Langsung lengket ke sana ke mari bersama kakak-kakaknya.

Alkisah, sembari ngobrol dengan paman dan bibi yang menyambut kedatangan kami, aku setting perangkat perang. Pak Nis nyeletuk ringan ketika melihat umpan pancingku hanya sebuah besi putih yang sudah kusam. Beliau seperti tidak yakin aku bakal dapat ikan hanya bermodalkan besi dan mata pancing doank tanpa umpan lain yang terkait di mata pancing. Aku mencoba tersenyum seraya menjelaskan kalau aku hanya meniru-niru adegan mancing di tv, siapa tau dapat ikan gede, hahahahahaha...

Singkat cerita, pukul siang aku sudah berada di seberang dusun Balai Nanga. Menambatkan sampan di bawah sebuah bantang kayu mati yang melintang ke tengah, lempar sana lempar sini, nihil. Bergerak ke hulu sedikit tepat di sebuah batu besar aku singgah. Berdiri di atas batu, menarik nafas sejenak, memandang ke seberang... ke dusun, ke tempat dimana anak isteriku berada, ke tempat di mana aku mulai belajar dewasa, ke tempat di mana sejuta kisah bermula... ah... kelenaanku terpenggal seketika, loncatan ikan-ikan kecil di hilir batu menjadi salah satu penanda bahwa buruanku ada di sana. Dalam beberapa kali lemparan spoon putih kusam mendapat sambaran kecil, sayang miss. Hingga ku putuskan mengganti spoon dengan lure minnow warna putih perak dengan kepala berwarna merah. Jleeeebbb... sambaran kuat menghantam lure dan menariknya ke pusaran-pusaran air yang mengalir deras di hilir batu. Joran kutahan sambil medikit mengendurkan drag. Wow... tarikannya terasa berat, aku senyum campur gemetaran. Membayangkan Lais Tebiring monster yang bakal menghiasi album fotoku di Facebook. Namun tarikannya mengendur drastis ketika mencapai sisi tepi yang arusnya agak tenang, kutarik perlahan, tidak ada perlawanan sama sekali... yang ada terasa berat seperti tersangkut sesuatu. Ketika hasil tangkapanku mengapung di samping perahu... jiahhhh.... ternyata Pari Sungai alias Karung Beras.... huh.... apes...

Bedug bertalu di masjid Al Fauziah, di susul merdu suara Azan penanda waktu sholat Ashar telah tiba. Semangat dan stamina menurun drastis, kuputuskan menyudahi perburuanku kali ini, mengayuh perahu perlahan menyeberani kapuas, Pulang...

(bersambung)


Jika anda merasa artikel di blog ini bermanfaat dan ingin berlangganan, silahkan masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini:


Delivered by FeedBurner


Tidak ada komentar:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...